KONEKSI ANTAR MATERI

 TOPIK 3 - KONEKSI ANTAR MATERI

PERSPEKTIF SOSIO KULTURAL DALAM PENDIDIKAN


MULAI DARI DIRI

Sebelum saya menjalani pembelajaran topik ini, dari judulnya yaitu Perspektif Sosio Kultural dalam Pendidikan di kelas saya berpikir mata kuliah ini pasti akan membuat saya menjadi guru professional yang lebih baik di masa depan karena saya akan belajar untuk bisa menjaga praduga saya akan bermacam-macam orang, spesifiknya siswa, dan latar belakang mereka yang berbeda-beda. Hal itu sangat penting agar saya dapat merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa yang tentu saja dipengaruhi oleh budaya dan status sosial mereka.

EKSPLORASI KONSEP

Dari fase ini saya mempelajari teori pikiran Vygotsky tentang cara mengatasi tantangan kognitif dalam pendidikan, yaitu dimana beliau menjelaskan ada 3 betuk mediasi yaitu alat, tanda & simbol, dan interaksi sosial. Topik ini menjelaskan lebih dalam tentang media interaksi sosial yang dalam kenyataannya di dasarkan pada contoh konkret yaitu pada dinamika kelas sosial di sekolah. Meski banyak studi telah membuktikan beberapa kali kalau siswa dengan status sosial rendah memang hampir selalu kalah, namun hal ini belum membahas status sosial siswa secara detail dari sudut sosiokultural siswanya.

Vygotsky, yang juga dipengaruhi oleh berbagai peneliti lain, menekankan bahwa sosiokultral siswa sangat berpengaruh pada kemampuan dan perspektif mereka saat belajar. Ia menekankan bahwa “karakter kelas, sifat kelas dan perbedaan kelas… bertangungng jawab ata pembentukan tipa manusia.” (Vygotsky, 1994). Kutipan Vygotsky itu adalah hal penting untuk diingat seorang guru karena karena akan membantu mereka dalam merancang pembelajaran dan pengembangan siswa dari perspektif pluralisme. Vygotsky percaya bahwa “anak-anak tumbuh menjadi intelektual orang-orang di sekitar mereka.

Hubungan individu antara siswa dan guru yang dimana si guru memenuhi keinginan/ kebutuhan siswa sebenarnya adalah inti dari hubungan sosial masyarakat karena menurut Leont’ev berpendapat bahwa keinginan adalah “faktor yang memandu dan mengatur aktivitas konkret agen dalam lingkungan objektif.... [Pembentukan hasrat] dijelaskan oleh fakta bahwa dalam masyarakat manusia objek hasrat diproduksi, dan keinginan itu sendiri karena itu juga diproduksi. . . . Kita dapat mengatakan hal yang sama tentang emosi atau perasaan” (1981, hlm. 49-50; penekanan pada aslinya)

Dari pemikiran Vygotsky dan Leont’eve tersebut, Ratner (2000) mengidentifikasi lima jenis untama fenomena budaya: aktivitas budaya; nilai, skema, makna, dan konsep budaya; artefak fisik; fenomena psikologis; dan agensi.

Keberhasilan guru dalam membentuk pengajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa sangat penting untuk mengubah status mereka menjadi lebih baik yang merupakan keberhasilan belajar. Menurut studi Collins, Wilcox dan Rist, bahwa perbedaan perlakuan yang disesuaikan sangat penting dalam pengembangan rasa identitas pelajar dan lembaga. Maka dari itu lembaga dan guru harus bisa melakukan refleksi yang cukup agar tidak menormalisasikan subjektivitas akan ekspektasi atau kemampuan siswa sesuai dengan status sosial, budaya dan ekonominya.

RUANG KOLABORASI

Di fase ini saya dan teman-teman sekelas saya berdiskusi bersama tentang kegiatan atau teori yang diterapkan dalam kegiatan pembelajaran di sekolah dari berbagai Negara dan jenjang pendidikan. Kelompok saya khususnya berdiskusi dan menganalisis tentang proses pembelajaran di Indonesia jenjang pendidikan SMK.

DEMONSTRASI KONTEKSTUAL

Saya mempelajari bahwa praduga seseorang berpengaruh besar akan kehidupan orang lain. Dengan menghilangnya atau diaturnya sebuah prasangka seseorang pada orang lain, hal itu dapat mengubah seluruh kehidupan orang yang mendapatkan prasangka tersebut. Maka dari itu guru yang berperan sebagai penuntun siswa harus bisa meminimalisir praduga yang mereka miliki, khususnya pada siswa.

ELABORASI PEMAHAMAN

Topik ini menyadarkan saya pada praduga dan cara menghadapinya. Hanya saja pada prakteknya praduga ini tentu saja tidak akan mudah hilang, bahkan mungkin lebih baik tidak hilang. Hanya saja mengatur dan menempatkan praduga terhadap seseorang merupakan hal yang baik.

Saya mempelajari bahwa hubungan individu antara siswa dan guru yang dimana si guru memenuhi keinginan/kebutuhan siswa sebenarnya adalah hal yang sangat krusial dalam hubungan sosial di sekolah secara keseluruhan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Leont’ev dimana keinginan dijelaskan sebagai “faktor yang memandu dan mengatur aktivitas konkret agen dalam lingkungan objektif.

Dari sini saya paham seberapa besarnya peran guru dalam perkembangan kehidupan siswa, bukan hanya sebagai pengajar akademik, namun pendidik agar mereka mencapai kehidupnya yang mereka inginkan dengan selamat dan berbahagia sesuai dengan kodratnya.

Saya ingin mempelajari lebih lanjut akan cara yang bik dan benar dalam mengatur praduga yang saya miliki kepada warga kelas saya. Bukan hanya dalam skala besar namun juga skala personal seperti faktor hubungan siswa tersebut dengan keluarga nya dan teman-temannya.

KONEKSI ANTAR MATERI

Materi dalam sosiokultural ini sangat koheren dengan materi pada mata kuliah lain, misalnya dengan mata kuliah Filosofi Pendidikan Indonesia, pada materinya ada Karakteristik manusia Indonesia yang mempengaruhi peserta didik dalam memperoleh pengetahuan terbentuk secara relasional-diagonal-historis dari sebelum ada NKRI ada hingga sekarang dan masa depan.

Hal-hal yang berhubungan antara sosiokultural dan mata pelajaran Filosofi Pendidikan Indonesia ini pun berkesinambungan dengan materi pada mata kuliah Pemahaman tentang Peserta Didik dan Pembelajarannya, karena profiling peserta didik dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik siswa agar guru dapat mengetahui aspek yang mempengaruhi pembelajaran siswa.

Mata kuliah Prinsip Pengajaran dan Asesmen yang Efektif I membahas tentang lingkungan belajar yang diharapkan tersedia untuk siswa tersebut dirancang bukan hanya sesuai dengan ekspektasi umum namun juga kebutuhan siswa sesuai status sosial dan kulturalnya. Lingkungan yang sesuai itu akan sangat dipengaruhi oleh status sosial dan ekonomi siswa.

Dalam mata kuliah proyek kepemimpinan, guru dilatih untuk menjadi pemimpin bagi murid, komunitas dan diri nya sendiri, juga dilatih untuk membangun siswa menjadi pemimpin bagi dirinya komunitasnya dan dirinya sendiri. Di materi ini calon guru merancang proyek kepemimpinan berdasarkan masalah di lingkungan sekitar mahasiswa, dan ini berhubungan dengan perspektif sosiokultural dalam pendidikan dimana asalah-masalah tersebut biasanya berhubungan dengan status sosial maupun kultural siswa.

Pada mata kuliah terakhir yaitu Praktek Pengalaman Lapangan, guru yang sedang menjalankan kegiatan Asistensi Mengajar, mahasiswa ke kelas dan membantu guru dalam kegiatan mengajarnya. Dari kegiatan ini siswa sudah memahami status sosial dan kultural siswa.

AKSI NYATA

Pembelajaran ini mempersiapkan saya dalam menghadapi peserta didik dengan latar belakang nya yang berbeda-beda. Untuk hal ini saya rasa kesiapan saya ada pada nilai 8 dari skala 1-10. Nilai ini keluar karena meskipun saya yakin saya telah mempelajari cara untuk memahami peserta didik dengan latar belakang berbeda, dan memiliki toleransi dan pemahaman akan perbedaaan budaya yang cukup tinggi, saya masih belum menerapkannya di kelas. Maka dari itu saya masih tidak bisa percaya diri mengatakan bahwa saya siap sepenuhnya. Maka dari itu saya sering melihat video dan membaca cerita tantang pengalaman para guru lain dalam mengahadapi hal-hal seperti ini

Komentar

Postingan Populer